![]() |
Fenomena hijrah sedang
melanda masyarakat kita. Tak hanya selebritis. Kalangan profesional, pelajar, sampai orang biasa,
ramai-ramai memutuskan berhijrah.
Hijrah selama ini dianggap
sebagai keputusan mengubah kebiasaan lama ke kehidupan yang lebih islami.
Penampilan mereka biasanya diidentikan dengan hijab untuk
kalangan wanita atau memelihara jenggot bagi pria. Ada pula yang memang tak
mengubah penampilan, namun perilaku mereka dalam kesehariannya berubah menjadi
lebih baik.
Selama ini umat Muslim memang
sudah mengenal istilah hijrah. Namun hijrah kala itu didefinisikan sebagai
perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang pindah dari Makah ke
Madinah tahun 622 Masehi.
Dilihat dari maknanya, hijrah
di zaman Rasulullah dan masa kini sebetulnya sama. Hijrah dilakukan dalam
rangka melaksanakan syari’at Allah, juga menuju pada hal – hal yang yang
diperintahkan Allah.
Sebelum memutuskan berhijrah,
Nabi Muhammad menghadapi berbagai tekanan dari pihak musyrik Quraisy untuk
menghalangi dakwah Islam. Cara yang paling halus adalah dengan mendekati paman
Nabi, Abu Thalib. Kepada sang paman, kaum musyrik Quraisy meminta Rasul
bersedia menghentikan aktivas dakwah. Imbalannya, Nabi akan diberikan
hadiah berupa harta benda dan emas, bahkan menjadikannya raja yang dikelilingi
wanita-wanita cantik. Akan tetapi nabi Muhammad memberikan pernyataan yang
tegas :
" Demi Allah wahai
pamanku! Meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di
tangan kiriku, agar aku meninggalkan dakwah Islam itu, aku tidak akan
meninggalkannya, sehingga aku mendapat pertolongan dari Allah atau aku hancur
binasa karenanya".
Selain Rasulullah, para
sahabat juga harus menjalani hijrah dengan perjuangan dan
pengorban. Sahabat Nabi rela mengorbankan apa saja yang dicintainya
termasuk dirinya sendiri untuk menegakkan agama Allah. Ali bin Abi Thalib,
sahabat Nabi menggantikan posisi Nabi yang sebelumnya diketahui tengah tertidur
di dipan pada malam hari, dimana akan melakukan hijrah. Padahal rumah rasul
telah dikerumuni warga yang hendak membunuhnya.
Namun hal yang tak disadari
para pengepung, Allah ta’ala telah memerintahkan Nabi agar segera berhijrah,
malaikat Jibril ‘alaihissalam menyampaikan: “ Muhammad, janganlah kamu
tidur malam ini di tempat tidurmu, karena sesungguhnya Allah ta’ala
memerintahkanmu untuk berhijrah ke Madinah" (Ibn al-Atsir al-Kamil fi
al-Tarikh, hal. 72).
Saat menjalani hijrah,
Rasulullah dan para pengikutnya juga menghadapi beragam persoalan yang tak
kalah beratnya. Banyak sahabat yang terkena penyakit demam berat. Tidak sedikit
pula yang mulai kangen dengan Makkah sebagai kampung halamannya. Selama itu
pula Rasul selalu berdoa, agar Allah segera mengangkat penyakit para
sahabatnya. Beliau juga senantiasa memberikan keyakinan kepada para
sahabat. “ Aku akan menjadi jaminan dan saksi bagi siapapun yang bersabar
di Madinah dan Allah akan memberikan yang terbaik kepada kita,” kata
Rasulullah.
Bahkan Rasulullah sering
membagikan makanan dan buah-buahan kepada para sahabat. Semua dilakukan tak
lain sebagai bentuk perhatian dan dorongan moril yang diberikan Rasulullah.
Tanpa hijrah, mungkin tidak ada peradaban Islam yang dimulai
Rasulullah dari Madinah. Tanpa hijrah, mungkin tidak akan ada kemenangan demi
kemenangan yang diraih Rasulullah dan para sahabatnya hingga mampu memfutuhkan
Makkah dan menyebarkan Islam ke seluruh jazirah Arab. Hingga sekarang Islam
dipeluk oleh lebih dari 1,2 milyar penduduk bumi.
Lalu, bagaimana kita mengambil ibrah dari peristiwa hijrah yang
terjadi 1440 tahun yang lalu ? Yang
perlu dilakukan adalah, ketika kita hidup di sebuah tempat yang tidak islami,
yang membahayakan agama kita, keluarga dan anak-anak kita, saat itulah kita
dianjurkan hijrah ke tempat yang lebih kondusif sehingga kita bisa menjalankan
Islam dengan baik. Setelah kita berupaya untuk berdakwah secara maksimal.
Sedangkan semangat hijrah yang lebih luas adalah seperti sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
الْمُهَاجِرُ مَنْ
هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Muhajir adalah
orang yang meninggalkan segala larangan Allah (HR. Bukhari)
hijrah adalah meninggalkan larangan Allah ta’ala. Maka ketika kita
berusaha beralih dari kemaksiatan menuju ketaatan, itu adalah hijrah. Ketika
kita berusaha meninggalkan kezaliman menuju keadilan, itu adalah hijrah. Ketika
kita berusaha mengubah hidup kita dari kejelekan menjadi kebaikan, itu adalah
hijrah. Ketika kita sebagai orang tua, kita mulai dari memberikan contoh yang
baik untuk anak-anak kita, itu juga hijrah. Inilah hakikat hijrah, inilah
semangat hijrah, dan inilah kesempatan bagi setiap muslim untuk berhijrah.
Akhir
kata, mari kita berhijrah demi kebaikan dunia dan akhirat kita..


0 komentar:
Posting Komentar