Azar (ayah Nabi
Ibrahim) hidup di negeri Babil; Irak, ia membuat patung dan menjualnya
kepada orang-orang agar mereka menyembahnya. Ia memiliki seorang anak yang
masih kecil bernama Ibrahim yang Allah karuniakan kepada sang anak tersebut
hikmah dan kecerdasan sejak kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran
sebelumnya, dan Kami mengetahui (keadaan)nya.” (QS. Al Anbiyaa’: 51)
Saat usianya semakin
dewasa, mulailah ia memikirkan siapakah Tuhan yang berhak disembah, kemudian
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk kepadanya sehingga dia
dapat mengenal Allah, Tuhannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
menjadikannya sebagai Nabi dan Rasul kepada kaumnya untuk mengeluarkan mereka
dari kegelapan kepada cahaya; mengeluarkan mereka dari menyembah patung dan
berhala menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala juga menurunkan suhuf (lembaran) kepada Nabi Ibrahim yang di
dalamnya terdapat adab, nasihat, dan hukum-hukum agar beliau menunjuki kaumnya,
mengajarkan kepada mereka dasar-dasar agama, serta menasihati mereka untuk taat
kepada Allah, Tuhan mereka, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan menjauhi segala
perbuatan yang bertentangan dengan akhlak yang mulia.
Saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
pulang ke rumahnya, ia menemui ayahnya dan berkata, “Wahai ayahku, mengapa
kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat
menolong kamu sedikit pun?–Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku
sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku,
niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.–Wahai ayahku, janganlah
kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah.–Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab dari
Tuhan Yang Maha Pemurah, sehingga kamu menjadi kawan bagi setan.” (QS.
Maryam: 42-45)
Namun ayahnya menolak
ajakan anaknya, yaitu Ibrahim ‘alaihissalam. Sambil marah ia berkata, “Bencikah
kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya
kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama”. (QS.
Maryam: 46)
Tetapi Nabi Ibrahim
bersabar menghadapi sikap keras ayahnya, bahkan membalasnya dengan sikap sayang
dan berbakti, ia berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan
memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik
kepadaku.—Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru
selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan
kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (QS. Maryam: 47-48)
Dakwah Nabi Ibrahim Kepada Penduduk
Hiran dan Babil
Di zaman Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam orang-orang menyembah bintang-bintang dan
patung-patung.
Yang menyembah
bintang-bintang adalah penduduk Hiran, sedangkan yang menyembah patung adalah
penduduk Babil.
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Berdakwah Kepada Penduduk Hiran
Penduduk Hiran adalah
para penyembah bintang-bintang. Beliau mengajak kaumnya berpikir memperhatikan
benda-benda langit; apa pantas benda-benda tersebut disembah. Disebutkan
kisahnya dalam Alquran sbb:
Ketika malam telah
gelap, dia melihat sebuah bintang dia berkata, “Ini(kah) Tuhanku?” Tetapi
ketika bintang itu tenggelam dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang
tenggelam.”
Kemudian ketika dia
melihat bulan terbit dia berkata, “Ini(kah) Tuhanku?” Tetapi setelah bulan itu
terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk
kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”
Kemudian ketika ia
melihat matahari terbit, dia berkata, “Ini(kah) Tuhanku?”, ini yang lebih
besar.” Maka ketika matahari itu terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku!
Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Al An’aam: 75-80)
Di beberapa ayat
tersebut Nabi Ibrahim mengajak kaumnya berpikir jernih tentang kelayakan
menyembah hayaakil (benda-benda langit). Setelah menjelaskan kepada
kaumnya tentang batilnya menyembah benda-benda langit ini, Nabi Ibrahim
berkata,
“Wahai kaumku!
Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.–Sesungguhnya
aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan
cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al An’aam: 78-79)
Demikianlah ajaran
Nabi Ibrahim, ajarannya adalah ajaran para nabi dari Nabi Adam sampai Nabi
Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam, yaitu tauhid (beribadah hanya
kepada Allah dan meniadakan sesembahan selain-Nya). Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah
sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika
Dialah yang kamu sembah.”
(QS. Fushshilat: 37)
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Berdakwah kepada Penduduk Babil
Penduduk Babil adalah penduduk yang menyembah
patung-patung.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluar menuju
tempat peribadatan kaumnya untuk mengajak kaumnya menyembah Allah, saat sampai
di sana, Beliau mendapatkan kaumnya sedang tekun menyembah patung yang banyak
jumlahnya, mereka menyembahnya, merendahkan diri di hadapannya serta meminta dipenuhi
kebutuhan mereka kepadanya, maka Nabi Ibrahim tampil dan berkata,
“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” (QS. Al Anbiya’: 52)
“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” (QS. Al Anbiya’: 52)
Kaumnya menjawab, “Kami
mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (QS. Al Anbiya’: 53)
Demikianlah kaumnya,
mereka tidak memiliki alasan terhadap perbuatan mereka selain mengikuti
nenek-moyang mereka yang sesat.
Ibrahim berkata lagi, “Sesungguhnya
kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al
Anbiyaa’: 54)
Kaumnya menjawab, “Apakah
kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk
orang-orang yang bermain-main?” (QS. Al Anbiyaa’ : 55)
Ibrahim menjawab, “Sebenarnya
Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku
termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.” (QS.
Al Anbiyaa’: 56)
Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
melihat kaumnya tetap kokoh di atas penyembahan kepada patung, maka Beliau
memikirkan bagaimana caranya menghancurkan patung-patung itu agar mereka mau
berpikir.
Abu Ishaq mengatakan
dari Abul Ahwash dari Abdullah, ia berkata,
“Ketika kaum Nabi
Ibrahim keluar menuju tempat mereka berhari raya, kaumnya –ada yang mengatakan
“bapaknya”- melewati Nabi Ibrahim sambil berkata, “Wahai Ibrahim, mengapa kamu
tidak ikut bersama kami?” Ibrahim menjawab, “Sesungguhnya aku sedang sakit dari
kemarin,” Nabi Ibrahim pun melanjutkan kata-katanya, “Demi Allah,
sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah
kamu pergi meninggalkannya.” Maka salah seorang di antara kaumnya ada yang
mendengar kata-kata itu.
Dengan diam-diam Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam pergi menuju ke tempat patung-patung itu
berada, saat melihat di hadapan patung-patung itu banyak makanan, maka Ibrahim
mengejek patung-patung itu dengan berkata, “Mengapa kalian tidak makan
dan mengapa kalian tidak bicara-bicara?”
Segeralah Nabi Ibrahim
menghancurkan berhala-berhala hingga terpotong-potong menggunakan kapaknya,
kecuali berhala yang paling besar.
Menurut sejarah, Nabi
Ibrahim menaruh kapaknya (yang digunakan untuk menghancurkan patung-patung) di
tangan patung yang paling besar, agar kaumnya mengira bahwa patung inilah yang
menghancurkannya dan ia tidak rela ada yang menyembah selainnya.
Ketika kaumnya kembali
mendatangi tempat patung yang mereka sembah dan melihat apa yang QSadi,
Mereka berkata, “Siapakah
yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia
termasuk orang-orang yang zalim.”(QS. Al Anbiyaa’ : 59)
Salah seorang di
antara mereka berkata, “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela
berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS. Al Anbiyaa’ : 60)
Kaumnya berkata, “Bawalah
dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan”.
(QS. Al Anbiyaa’ : 61)
Nabi Ibrahim pun
dihadapkan kepada mereka dan disidang, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan
ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” (QS. Al Anbiyaa’: 62)
Ibrahim menjawab,
“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada
berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. (QS. Al Anbiyaa’ : 63)
Maksud perkataan Nabi
Ibrahim adalah agar kaumnya mau berpikir, bahwa patung adalah benda mati
yang tidak dapat berbicara sehingga tidak pantas disembah tanpa perlu
dijelaskan lagi oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Maka mereka kembali
kepada kesadaran mereka dan berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian
adalah orang-orang yang menganiaya“, (QS. Al Anbiyaa’: 64) Yakni karena
meninggalkan patung-patung itu tanpa dijaga.
Kepala mereka pun
menjadi tertunduk, setelah itu mereka berkata kepada Ibrahim:
“Sesungguhnya kamu
telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (QS. Al Anbiyaa’ : 65)
Maksudnya, “Mengapa
kamu suruh kami bertanya kepada patung-patung itu, sedangkan kamu tahu bahwa
mereka tidak bisa bicara.”
Ketika itulah Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam berkata,
“Maka mengapa kamu
menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan
tidak memberi bahaya kepada kamu?” (QS. Al Anbiyaa’: 66)
“Ah kamu dan apa
yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” ( QS. Al
Anbiyaa’ : 67)
Inilah jihad pertama
para nabi, yaitu jihadul ‘ilmi wa iqaamatul hujjah (berdakwah dan
menegakkan hujjah) sehingga tidak ada alasan lagi bagi mereka di hadapan Allah
nanti.
Ketika kebenaran Nabi
Ibrahim telah tampak dan alasan mereka kalah, mereka beralih kepada cara
yang lain, yaitu menggunakan “kekerasan” karena Ibrahim telah menghancurkan
patung mereka dan menghina sesembahan mereka. Mereka berkata, “Bakarlah dia
dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”
(QS. Al Anbiyaa’: 68)
Maka kaumnya pun
mengumpulkan banyak kayu bakar, sampai-sampai ada wanita yang sakit bernadzar,
kalau seandainya sakitnya sembuh ia akan ikut mengumpulkan kayu bakar untuk
membakar Ibrahim.
Mereka meletakkan kayu
bakar itu dalam sebuah parit dan menyalakan api di dalamnya hingga menyala
besar, lalu mereka meletakkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam sebuah
wadah manjeniq (alat pelempar) atas usulan seorang dari daerah Akraad-Persia
(Syu’aib Al Jabay berkata, “Namanya adalah Haizan”, Allah pun menenggelamkan
Haizan ke dalam bumi dan ia tetap berada di dalamnya hingga hari kiamat),
setelah itu dilemparlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam keadaan terikat
dari manjenik itu ke dalam api. Saat itu Nabi Ibrahim berkata,
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
“Cukup bagiku
Allah, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.” (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu
Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Bukhari)
Maka Allah Ta’ala
pun menyelamatkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan menjadikan api itu
dingin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai api menjadi
dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim,“ (QS. Al Anbiyaa’ :69)
Ibnu Abbas dan Abul
‘Aliyah berkata, “Kalau seandainya Allah tidak berfirman “Dan menjadi
keselamatanlah bagi Ibrahim” tentu dinginnya api tersebut akan menyakiti
Ibrahim.
Ketika itu ada
binatang yang ikut membantu meniupkan api untuk membakar Nabi Ibrahim, yaitu wazagh
(cicak atau tokek) (berdasarkan hadis riwayat Bukhari).
Oleh karena itulah,
mengapa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk
membunuh cicak, dan menjelaskan bahwa membunuhnya sekali pukul akan mendapatkan
seratus kebaikan, jika dua kali pukul, pahalanya berkurang dst. (berdasarkan
hadis riwayat Muslim).
Setelah Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam selamat dari pembakaran, maka beliau berdakwah
kepada Raja negeri tersebut (Babil), yaitu Namrud.
Debat antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
dengan Namrud, Raja yang Mengaku Tuhan
Dahulu raja dunia
bagian Timur dan Barat ada empat; dua orang mukmin dan dua orang lagi kafir.
Dua orang raja yang mukmin adalah Raja Dzulqarnain dan Sulaiman, sedangkan dua
raja yang kafir adalah Namrud dan Bukhtanashhir.
Di antara dua raja
kafir tersebut, yang didebat oleh Ibrahim ‘alaihissalam adalah Namrud
seorang raja Babil.
Nabi Ibrahim berdakwah
kepada Raja Namrud karena dia mengaku dirinya sebagai Tuhan (ada yang
mengatakan bahwa ia berkuasa ketika itu selama 400 tahun).
Berikut ini kisahnya
dalam Alquran:
“Apakah kamu tidak
memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena
Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan. Ketika Ibrahim
mengatakan, “Tuhanku adalah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu
berkata, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata,
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari
Barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah: 258)
Pada ayat di atas Namrud
meminta Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menunjukkan bukti keberadaan
Allah Ta’ala, maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata, “Tuhanku
adalah yang mampu menghidupkan dan mematikan,” yakni bukti keberadaan Allah
Ta’ala adalah adanya sesuatu dan hilangnya sesuatu setelah adanya,
karena sudah pasti setiap yang ada pasti ada yang mengadakannya, Dialah Allah Ta’ala
Tuhan alam semesta.
Namrud pun menjawab, “Aku
juga bisa menghidupkan dan mematikan”, maksud menghidupkan adalah dengan
membiarkan hidup atau tidak jadi dibunuh orang yang harus dibunuh. Sedangkan
maksudnya bisa mematikan adalah dengan membunuh seeorang.
Kata-kata ini
sebenarnya dia ucapkan hanya untuk membantah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
dan untuk membenarkan dakwaannya “mengaku tuhan” padahal jawaban ini sangat
lemah sekali.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
kemudian mengatakan, “Sesungguhnya Allah yang menerbitkan matahari dari
Timur maka terbitkanlah dari Barat!” Ketika itu diamlah si thaaghut
ini dan tidak bisa menjawab apa-apa.
Hijrahnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Untuk selanjutnya Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam memutuskan berhijrah dari negeri tersebut,
melihat karena tidak ada yang beriman selain istrinya Sarah dan putera
saudaranya, yaitu Luth ‘alaihissalam, maka ia pun berhijrah dari satu
tempat ke tempat yang lain hingga sampai di Palestina. Di sanalah beliau tinggal
beberapa lama, beribadah kepada Allah dan megajak manusia untuk beribadah
kepada Allah.
Setelah berlalu
beberapa tahun, maka negeri tersebut ditimpa kemarau panjang, hingga mendesak
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk hijrah ke Mesir. Ketika itu, di Mesir
ada seorang raja yang kejam namun suka kepada wanita, ia memiliki beberapa
pembantu yang membantunya untuk memperoleh apa yang ia inginkan.
Para pembantunya
berdiri di pinggiran negeri untuk memberitahukan kepada raja wanita-wanita
cantik yang datang ke Mesir. Saat mereka melihat Sarah, dimana ia adalah wanita
yang sangat cantik, maka mereka menyampaikan kepada raja dan memberitahukan
kepadanya bahwa bersamanya ada seorang laki-laki, maka raja pun mengeluarkan
perintahnya untuk membawa laki-laki itu.
Tidak beberapa lama,
beberapa tentara datang dan membawa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada
raja. Ketika tiba di hadapannya, maka raja bertanya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
tentang wanita yang bersamanya, lalu Nabi Ibrahim menjawab, “Ia adalah
saudarinya.” Rajanya berkata, “Bawalah ia ke hadapanku.” Maka Nabi Ibrahim
pergi menemui Sarah dan memberitahukan kepadanya apa yang disampaikannya kepada
raja dan perkatannya, bahwa Sarah adalah saudarinya.
Lalu Sarah pun pergi
ke istana. Ketika raja melihatnya, maka raja terpesona melihat kecantikannya
dan langsung berdiri menghampirinya, tetapi Sarah berkata, “Saya ingin shalat
dan berwudhu (dahulu).” Maka raja pun mengizinkannya. Lalu Sarah berwudhu dan
shalat, setelah itu ia berdoa, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku
beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan aku menjaga kehormatanku selain
kepada suamiku, maka janganlah engkau berikan kekuasaan kepada orang kafir
ini.” Maka Allah mengabulkan permohonannya, menjaganya dan memeliharanya.
Sehingga setiap kali, raja ingin memegangnya, maka tangannya tergenggam atau
tercekik, hingga raja pun meminta Sarah agar berdoa kepada Allah agar tangannya
terbuka dan raja tidak akan menimpakan bahaya apa-apa kepadanya. Kejadian ini
berulang sampai tiga kali.
Saat raja mengetahui,
bahwa ia ternyata tidak berkuasa kepadanya, maka raja memanggil sebagian
pembatunya dan berkata kepada mereka, “Kalian tidak membawaku seorang manusia,
bahkan membawa kepadaku seorang setan.” Lalu ia memerintahkan para pembantunya
untuk memberikan Hajar kepadanya untuk menjadi pelayannya. (Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Bukhari).
Maka Sarah pun kembali
kepada suaminya tanpa diganggu sedikit pun oleh raja, lalu Sarah mendapatkan
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam keadaan shalat. Saat Sarah sampai, maka
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melihatnya dan bertanya kepadanya tentang hal
yang terjadi? Sarah pun menjelaskan, bahwa Allah menolak tipu daya raja itu
kepadanya dan memberikan kepadanya seorang budak bernama Hajar untuk
melayaninya.
Setelah beberapa lama,
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kembali ke Palestina. Di tengah
perjalanan, putera saudaranya, yaitu Luth ‘alaihissalam meminta izin
kepadanya untuk pergi ke negeri Sadum untuk mengajak penduduknya beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan perbuatan keji yang
selama ini mereka lakukan, maka Nabi Ibrahim memberinya sebagian binatang
ternak dan harta, dan ia melanjutkan perjalanannya bersama keluarganya ke
Palestina hingga tiba di sana, dan di sana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
tinggal beberapa lama.
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Meminta Kepada Allah Agar Ditunjukkan Bagaimana Dia Menghidupkan Orang yang
Mati
Suatu hari Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam meminta kepada Allah, agar Dia memperlihatkan
kepadanya bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang telah mati. Hal ini
sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala di surat Al Baqarah: 260:
Dan (ingatlah) ketika
Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau
menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman, “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim
menjawab, “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap
(dengan imanku).” Allah berfirman, “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung,
lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman), “Lalu letakkan di atas
setiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah
mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa
Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.”
Maka Nabi Ibrahim
melaksanakan perintah itu, beliau menyembelih empat ekor burung dan meletakkan
bagian-bagian badannya di atas beberapa bukit, lalu beliau kembali ke tempat
semula sambil berdiri menghadap ke arah bukit dan memanggil burung-burung yang
telah disembelih dan dipisah-pisah badannya itu, tiba-tiba burung itu hidup
kembali dan datang kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan izin Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Kelahiran Nabi Ismail
Sarah adalah istri Nabi
Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan
keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya
dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi
Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi
Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.
Selanjutnya, Allah Subhanahu
wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi
Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya
sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian
keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau
(Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka
mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada
mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka
bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Kemudian Nabi
Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.
Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari
Para Malaikat
Suatu hari, Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para
malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih
untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian
menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para
malaikat tidak makan dan minum.
Ketika itulah, para
malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat
yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak
mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.
Para malaikat juga
memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari
istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua,
sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang
demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,
“Para malaikat itu
berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat
Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya
Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)
Kisah Penyembelihan Nabi Ismail
Suatu hari Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau
memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah
kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi
Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing
bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga
sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya.
Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril
datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya,
peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul
Adh-ha.
Kunjungan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
ke Mekah
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk
melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan
pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan,
lalu Nabi Ismail setuju.
Keduanya pun
mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya
berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka
berdua. Keduanya berkata,
“Ya Tuhan Kami
terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua
orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami
umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan
tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah:
127-128)
Maka Allah mengabulkan
permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah
kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan
setiap waktu.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka
ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang
musyrik. (QS. Ali Imran: 95)
Ketika Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit
ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya
dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah
itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat
QS. An Nisaa’: 125).
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq
‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya
dan manusia setelahnya.
Dalam Alquran Allah Subhanahu
wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman,
“Sesungguhnya Ibrahim
adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan
hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan
(Tuhan),— (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya
dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan
di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang
saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim
seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan
tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)
Allah Subhanahu wa
Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para
nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan
Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian
dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia;
dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al ‘Ankabut: 27)
Beliau termasuk para
rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita
diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud.
sumber :https://kisahmuslim.com


0 komentar:
Posting Komentar